Tampilkan postingan dengan label uncategorized. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label uncategorized. Tampilkan semua postingan

Jumat, 20 Februari 2015

Potret Kehidupan Perantau Toraja di Manokwari


Tanah Papua Ka, Tana Toraja Ka, Sama Saja…
  • Potret Kehidupan Perantau Toraja di Manokwari

Oleh: Patrix Barumbun Tandirerung
PULUHAN tahun hidup dan beranak cucu di perantauan rupanya membuat warga asal Toraja yang bermukim di Kabupaten Manokwari, Provinsi Papua Barat, menyimpan keinginan menikmati masa tua di kampung halaman. Meski begitu terselip kekuatiran kalau mereka serta anak cucu yang lahir di perantauan sulit atau tidak sanggup lagi menyesuaikan diri dengan kekinian Toraja, baik menyangkut dinamika, lingkungan maupun masyarakatnya.
Perasaan ini dipendam Thomas La’bik (60 tahun), warga Fanindi Bengkel Tan, Distrik Manokwari Barat. Keterikatan pada komunitas serta alasan penghidupan yang lebih layak di perantauan memperkuat dilema itu. Inilah pilihan  Thomas: bertahan di tanah rantau dengan konsekuensi Ia dan keluarganya tercerabut dari akar kebudayaan asal, atau pulang dengan konsekuensi anak cucunya harus kembali beradaptasi dengan penghidupan baru serta budaya dan lingkungan Toraja.
“Saya ingin sekali nikmati masa tua atau menjalani masa pensiun di sana. Tapi itu baru rencana soalnya anak-anak lahir di sini, mereka sudah besar dan kurang memahami adat dan budaya Toraja. Saya kuatir mereka tidak betah, saya juga begitu, 37 tahun lalu jelas beda situasinya dengan sekarang,” tutur pria kelahiran Balusu, Toraja Utara ini dengan aksen Toraja yang kental, Selasa 13 September di beranda kediamannya, Kompleks Fanindi Bengkel Tan, Distrik Manokwari Barat.
Ayah 6 anak dan telah dikaruniai 6 cucu ini bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil Dinas Pendidikan dan Pengajaran Manokwari. Meninggalkan Kampung halaman awalnya pilihan sulit bagi Thomas. Di kampung ada sanak saudara dan keluarga. Tapi garis hidup bicara lain. Ia sulit mendapat pekerjaan layak. Tahun 1973 bersama 14 rekannya, Thomas akhirnya nekat merantau ke Tanah Papua.
Dari Makassar ia mengarungi lautan kurang lebih sebulan lamanya menumpangi kapal barang. Tujuan Thomas dkk adalah Nabire. Tapi sebuah pertengkaran sesama mereka di atas kapal memaksa Thomas memilih turun di Manokwari.
Mengapa memilih Papua? “Waktu di kampung pilihan kami memang mau ke Kalimantan, lebih dekat. Tapi ada informasi kalau Papua masih terbuka. Katanya peluang mendapat pekerjaan besar, akhirnya kami kesini,” jawabnya lugas kepada saya.
Tiba di Manokwari seorang diri justru membuatnya kesulitan dan mulai sadar bahwa sandaran hidupnya saat itu adalah diri sendiri dan sesama perantau Toraja. Kesadaran lainnya adalah, perkara mencari kerja di perantauan ternyata tak semudah membalik telapak tangan. Bukan hanya butuh lembaran ijazah dan pengalaman tetapi juga keterampilan dan koneksi. Alhasil, Ia menganggur 4 bulan lamanya. “Waktu itu kalau mau makan, saya biasanya ke orang – orang Toraja yang saya kenal,” kenangnya pahit.
Jalan hidup Thomas mulai berubah ketika seorang kerabat mengajaknya ke Babo dan Bintuni untuk bekerja. Ia dikontrak menjadi tenaga survey sumber minyak selama 6 bulan lamanya. Sebenarnya ia merasa tidak betah dengan pekerjaan itu apalagi ganasnya hutan Papua dan muara sungai yang tidak saja menyimpan reptil mematikan semisal ular berbisa dan buaya tetapi juga nyamuk penyebar penyakit yang paling ditakuti pendatang: malaria.
Suatu saat ketika sedang berisitrahat di tengah hutan, Ia iseng memutar radio milik temannya. Tak disangka, radio menyiarkan adanya penerimaan tenaga guru.“Saya iseng buat permohonan dari hutan. Ha ha ha… Eh, Tahun 1975 saya dapat panggilan tugas,” katanya. “Saya kemudian dipanggil ke Manokwari lalu ditugaskan di pedalaman Distrik Amberbaken. Sejak saat itu saya berstatus sebagai pegawai negeri sipil.”
Saat bertugas, Thomas pun mulai menjajal berbagai daerah baru dan dekat dengan kota sebelum ditugaskan di Kota Manokwari pada tahun 1983. Ia akhirnya memantapkan diri menetap di kota ini tempat dimana anak cucunya lahir dan tumbuh dewasa. Sesekali Ia pulang ke Toraja terutama bila ada acara keluarga. Untuk pertama kalinya Thomas pulang kampung pada tahun 1981.

***
BEBERAPA bulan lalu dalam sebuah acara persiapan pelantikan pengurus Ikatan Keluarga Toraja Manokwari di Manokwari, saya bertanya kepada seorang bocah Keturunan Toraja kelahiran Manokwari. “Dek, apa bahasa Torajanya makan?”
“Kumande kaka,” jawabnya mantap.
“Kalau ‘mau kemana’?”
“Umm -ba laaa mu ola.” Ia terbata-bata.
“Kerbau?”
“Tedong to,” jawabnya cepat.
“Kalau siap gerak!?”
Dia terdiam sejenak, senyum dan garuk – garuk kepala, “Adoh, sa tra tahu kaka. Tanya lain boleh ka,” katanya.
Para tetua hanya tersenyum. Namun bisa juga mereka berfikir, “apa ya?”
“Siapa pahlawan nasional dari Toraja?” saya bertanya lagi.
Bocah itu geleng-geleng kepala.
Dialog ini mengingatkanku pada adik saya yang bernama Umrah. Ia lahir dan sampai saat ini bermukim di Malaysia, tepatnya di Sabah, tempat ibu saya menghembuskan nafas terakhirnya. Umrah tak bisa berbahasa Toraja apalagi menghafal teks Proklamasi RI atau lagu kebangsaan Indonesia Raya. Beda ceritanya ketika saya memintanya menyanyikan lagu kebangsaan Malaysia; cepat dan lantang sekali dia.
“Dek!” seru saya suatu ketika kepada Umrah dalam pertemuan kami di Makassar. “Coba kau hitung 1 sampai 5 dalam bahasa Toraja.”
“Tidak tahu lah abang. Aku boleh kalau english,” jawabnya. “One… Two.. Three… Four, Five…”.
“Hmmmm…”
***

KOMPLEK Fanindi Bengkel Tan terlihat sepi. Jarum jam menunjuk pukul 14.15 WIT. Kawasan ini adalah salah satu titik pemukiman di Manokwari yang dihuni oleh pendatang dari suku Toraja. Hanya beberapa warga yang terlihat duduk di beranda rumah.
Lorong yang membelah deretan rumah warga juga sepi dari pelintas. Kecuali, beberapa bocah keturunan Toraja yang lahir di kota ini. Mereka bermain bersama sejumlah bocah Papua, tetangga mereka. Saya beruntung mendapati Thomas sebagai sumber informasi mengenai komunitas tersebut. Ia sedang menjemur pakaian cucunya di beranda rumah saat menerima saya.
Oleh warga Manokwari, kawasan ini biasa dinamai “Kompleks Toraja”. Thomas adalah orang Toraja yang pertama kali tinggal di tempat ini. Awalnya, Thomas membeli sebidang tanah dari seorang pemilih tanah bernama Rumbarar. Pilihannya diikuti perantau Toraja lainnya.
Hingga kini setidaknya terdapat 50 kepala keluarga dari kalangan suku Toraja yang mendiami kawasan tersebut. Titik pemukiman lainnya yang dihuni oleh mayoritas warga Toraja di Manokwari adalah Komplek Kaca Bulat di sekitar pelabuhan Manokwari, Kampung Marampa’ di Sowi Distrik Manokwari Selatan dan Komplek Fanindi ST.
Warga Toraja yang mendiami Fanindi Bengkel Tan umumnya berprofesi sebagai buruh dan tukang kayu. Itu sebabnya siang itu kawasan ini sepi. “Kira – kira 60 persen buruh lebihnya PNS dan pekerja swasta,” sebut Thomas.
Manokwari berstatus sebagai Ibukota Provinsi Papua Barat. Menurut pengamatan saya, sepanjang tahun 1999 hingga kini, Manokwari berkembang signifikan. Itu terlepas dari munculnya sejumlah protes warga soal ketidak adilan pembangunan, hingga masih menggemanya tuntutan Papua merdeka.
Perkembangan itu sangat terasa setelah mendapat status sebagai ibukota provinsi. Pemerintah terus menggenjot pembangunan hingga ke daerah pedalaman. Geliat pembangunan dan berkembangnya sektor jasa pun mengundang para pendatang mencari peruntungan hidup. Gelombang perantau juga berasal dari Toraja.
Menurut Ketua Umum Ikatan Keluarga Toraja Provinsi Papua Barat, Daniel R Patandianan, jumlah warga Toraja di Provinsi ini kurang lebih 49.000 jiwa, mereka tersebar hampir disemua kabupaten di Papua Barat.
“Jumlah terbanyak terdapat di Sorong, disusul Manokwari, Teluk Bintuni dan Teluk Wondama,” katanya.”Jumlahnya semakin meningkat setelah Papua Barat jadi provinsi.”
Manokwari menyimpan sisi kesejarahan di Tanah Papua terutama menyangkut peradaban dan gerakan sosial orang Papua. Sisi peradaban berkaitan dengan sejarah masuknya Injil di Tanah Papua untuk pertama kalinya yang diprakarsai misionaris Johann G Geissler dan Carl W Ottow. Keduanya memulai misi penginjilan di Tanah ini pada tanggal 5 Februari 1855 dari Pulau Mansinam. Bagi orang Papua ini adalah titik balik kehidupan mereka dari gelap ke terang.
Pulau ini dijangkau dalam 10 menit menggunakan taksi laut dari kota Manokwari dan kini menjadi salah satu objek wisata religi yang selalu dikunjungi warga lokal maupun wisatawan.
Thomas dan para tetua Toraja di kawasan Fanindi Bengkel Tan termasuk generasi perantau Toraja pertama di Manokwari. Sebut saja anak mereka yang lahir di Manokwari sebagai generasi kedua. Bila ada yang memiliki cucu maka cucunya adalah generasi ketiga.
Generasi kedua dan ketiga yang lahir di tanah rantau biasanya tidak lagi memiliki interaksi secara langsung dengan budaya asalnya kecuali ikatan emosional kesejarahan keluarga. Interaksi yang bersifat multikultural di perantauan serta aktivitas dan kesibukan sehari-hari di perantauan, juga membuat mereka tak terlalu peduli Toraja beserta tetek bengek kebudayaannya. Generasi inilah yang terancam tercerabut dari akar kebudayaan asalnya.
Agar lebih dekat dengan kampung,  perantau generasi kedua dan ketiga biasanya melanjutkan studi di Makassar yang secara geografis relatif dekat dengan Toraja. Inilah kesempatan bagi mereka untuk berinteraksi dengan kebudayaan Toraja tatkala bersua dengan handai taulan yang tersisa di kampung halaman. Bagi yang sama sekali menetap dan tumbuh di Manokwari, referensi tentang adat istiadat Toraja biasanya didapatkan dari penuturan orang tua maupun lewat informasi media massa.
***
DANIEL R Patandianan menerima saya di ruang kerjanya, tepatnya di kantor perusahaan pelayaran PT Fajar Lintasirja Lines, Jalan Merdeka nomor 42 Manokwari. Di perusahaan ini Ia menjabat sebagai Kepala Cabang.
Wajah Pak Patandianan— begitu warga Toraja di Manokwari memanggilnya— cukup familiar bagi saya; mirip dengan wajah mantan presiden Republik Indonesia, M. Jusuf Kalla. Bayangkan saja pak JK dengan kumis agak tebal dan rambut agak bergelombang, kurang lebih begitulah Pak Patandianan.
Dia lahir di Pangli, sebuah kampung di Kabupaten Toraja Utara 10 Juni 1944. Suami Senobua’ Ramba ini bermukim di Manokwari pada Juni 1990 tepatnya ketika ditugaskan menjadi kepala cabang PT Pelayaran Nasional Indonesia atau PELNI. Enam tahun bertugas sebagai Kepala PELNI ia kemudian dimutasi. Alasan mutasi diceritakan kepada saya namun tak bisa dipublikasi untuk menghormati permintaan “Off The Record” yang Ia ajukan.
Mutasi itu, menurut dia tak beralasan. Merasa berada pada pihak yang benar Ia akhirnya memilih mengundurkan diri, lantas terjun ke dunia usaha yang tak jauh – jauh dari urusan pelabuhan: pelayaran, ekspedisi muatan kapal laut dan bongkar muat. Sebelum di Manokwari, Ia sempat bertugas di Jakarta, Makassar dan Kendari.
“Saya memilih terjun ke usaha ini karena pengalaman bekerja di pelabuhan dan memahami seluk beluk pelabuhan,” katanya soal usaha yang Ia geluti. Ia perokok aktif. Terutama saat berbicara. Alhasil, ruang kerjanya selalu dihiasi kepulan asap rokok.
Patandianan muda adalah seorang aktivis mahasiswa. Lulus di SMA negeri Manokwari pada tahun 1962, Ia pun melanjutkan studi pada jenjang pendidikan formal yang lebih tinggi di Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin Makassar, lantas menyambung studinya di Fakultas Hukum Universitas Gajah Mada. Ia menggondol gelar sarjana hukum di kampus ini pada tahun 1972.
“Saya masuk UGM tahun 1965 pada masa Gestapu tapi tidak diterima. Untunglah saya punya kartu anggota Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI), kartu itu menyelamatkan saya, sebab GMKI pada jaman itu merupakan penyokong orde baru,” ujarnya. “Kalau saya anggota GMNI yang pro Soekarno pasti lain ceritanya.”
Dari percakapan kami, saya mengetahui bahwa Patandianan adalah sosok yang ramah dan memahami adat istiadat dan kebudayaan Toraja. Sejak kecil hingga lulus SMA, Patandianan gemar duduk dan berdiskusi soal adat istiadat Toraja bersama orang tua maupun para tetua adat di Toraja, minimal di kampung kelahirannya Pangli. Meski demikian Ia terlihat tidak konservatif namun lebih bersikap kontekstual dalam menerapkan nilai dan adat istiadat Toraja di perantauan. Ia menyebutnya “Penyederhanaan budaya.”
“Orang tua – tua kebanyakan masih membawa pola pikir dari kampung,” katanya mengenai warga Toraja di Manokwari. “Padahal ada ritual maupun pemahaman dalam kebudayaan orang Toraja yang tidak perlu kita terapkan di perantauan semisal pemahaman tentang Tana’ terutama dalam ritual rambu solo maupun rambu tuka yang kita lakukan di perantauan.’”
Tana’ kurang lebih adalah struktur sosial dalam masyarakat adat Toraja. “Contohnya, penggunaan Sarigan danBullean Ratu’ dalam ritual rambu solo’ (duka cita) yang Ma’Sapu Randanan. Di rantauan aturan soal itu cukup menjadi tampilan, sehingga orang memahami bahwa budaya orang Toraja seperti itu. Kalau dipaksakan di tanah rantau, Yamo disanga pa’dikkiki’ sola bitti’ta atau sola kalala’ta to,” ucapnya, yang kurang lebih berarti memaksa aturan itu sama halnya menyakiti atau menyusahkan warga Toraja yang marjinal baik secara ekonomi maupun dalam struktur sosial masyarakat adat.
Penerapan aturan itu secara ketat di perantauan, sebut mantan anggota DPR Papua Barat periode 2004-2009 ini, berpotensi merusak kesatuan orang Toraja. Apalagi bagi mereka yang sama sekali tidak mengetahui adat.
Patandianan yang juga kerap kali disapa Bapak Kepala Suku, memimpin dan mengelola organisasi Ikatan Keluarga Toraja Provinsi Papua Barat dengan pendekatan kultural. Penguasaannya terhadap masalah-masalah adat, kapasitas dan pengalaman kepemimpinan maupun dukungan warga IKT kepadanya sebagai pemimpin, merupakan modal baginya untuk mengurus masalah yang terjadi di dalam tubuh IKT dan warga IKT.
Pendekatan yang sama Ia terapkan saat membangun interaksi dengan komunitas laiinya termasuk ketika menyelesaikan konflik antara sesama warga Toraja maupun antara warga Toraja dengan warga dari suku lainnya.
“Kalau eksternal IKT, kita harus memahami bahwa kita berada di daerah orang. Kita harus mempelajarai tradisi dan nilai – nilai budaya dimana kita bermukim. Karena tamu, ya kita harus pintar – pintar bawa diri. Jika fanatisme dimunculkan sama halnya ‘bawaki ulunta lako batu’ (sebuah ungkapan dalam bahasa toraja yang kurang lebih bermakna membawa diri kepada masalah-red),” tuturnya lagi. “Prinsipnya adalah, di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung.”

***
MENJELANG sore, para pemukim di Fanindi Bengkel Tan sudah kembali ke rumah masing – masing, kompleks ini mulai memperlihatkan denyut kehidupan sebuah komunitas sekaligus ciri khas ke-Torajaan-nya. Generasi tua berkomunikasi dalam bahasa Toraja. Sementara generasi kedua dan ketiga berkomunikasi dalam bahasa Indonesia dengan dialek Melayu Papua.
Sesekali Thomas menyapa para tetangga yang mulai berdatangan. “Manasumo?” sapa seorang ibu kepadanya. Ibu itu adalah seorang pegawai Dinas Tenaga kerja dan Transmigrasi Manokwari. Thomas menyambutnya dengan senyum simpul, lantas memberi ibu itu sebuah jeruk manis. Kami sempat larut dalam perbincangan sebelum ibu itu pamit. “E kurre, yamoke kutarru’pa,” kata ibu itu berterima kasih, sebelum berjalan menuju rumahnya.
Waktu dan pengalaman hidup terus mengalir hingga Thomas tak semuda dulu. Ia juga merasa bagian dari alur kesejarahan Tanah Papua. Kontribusinya bagi Tanah Papua tak lain adalah pengabdiannya sebagai guru yang bertahun –tahun mendidik ratusan anak pedalaman Papua.
Baginya, Tak ada lagi yang nomor satu; Toraja atau Papua. Terlebih Thomas mengenal betul kebudayaan lokal berkat interaksinya dengan masyarakat lokal. Gejolak yang terjadi di Tanah Papua termasuk adanya aspirasi dan tuntutan kemerdekaan Papua tak membuatnya beralasan pulang kampung, kecuali karena kerinduan pada sanak saudara dan tanah leluhur. Sesuatu yang manusiawi.
Kini kulitnya mulai dihiasi guratan tanda umur yang mulai uzur. Rambut mulai memutih sana-sini. Wajahnya pun mulai memancarkan keletihan, barangkali seletih sang ayahnya yang ia tinggalkan 37 tahun silam. “Kalau pulang ke Toraja, keluarga saya akan kehilangan pencaharian. Biar lahir di sana tapi saya sudah tidak terbiasa. Apalagi sejak orang tua tidak ada,” ucapnya menghela nafas panjang.
Ia pun terdiam, menerawang jauh, lalu kembali bertutur, “Tahun ini saya pensiun. Pulang dan bertahan disini itu dilema. Budaya Toraja itu tidak bisa saya lupakan. Apalagi saya lahir di sana. Tapi dari pada pusing pikir pulang atau tidak, lebih baik jalani hidup. Prinsip saya manusia di manapun pasti mati. Tanah Papua kah, Tana Toraja kah, sama saja…”(**)

(PATRIX BARUMBUN/ Wednesday, September 14, 2011 at 3:22am)

Catatan kecil memaknai hidup dan mati yang saya dapatkan dari negeri di atas gunung.




Tak ada habisnya ku banggakan tempat ini, sebuah tempat dimana kami anak-anak gunung dilahirkan dan tumbuh dewasa. Tempat Dimana keluarga kami tinggal. Memang betapa berharganya semua kenangan yang ada di tempat tersebut, tak habis kupikirkan, namun entah orang mau berkata apa, jika mereka bercita-cita keluar negeri untuk tahu budaya orang luar, saya justru sebaliknya, mengetahui dengan detail keunikan budaya dimana saya dilahirkan justru lebih berharga. Jauh dari rumah, malah membuat saya sadar bahwa betapa uniknya tanah di atas gunung di pertengahan pulau Celebes. Dan bagiku tak perlu keluar negeri untuk bisa tahu bahwa toraja adalah home sweet home. Disanalah terdapat banyak miniature surga pernah saya rasakan indahnya. Orangtua, saudara, sanak keluarga, dan sahabat, bahkan banyak teman saya temukan disana.
Budaya toraja membesarkan kami semua anak-anaknya, tanahnya sudah memberi kami makan, dan bahkan alamnya memberi kami pelajaran bagaimana melanjutkan hidup yang telah sang khalik titipkan. Terlebih ucapan termakasih atas keunikan yang para leluhur kami ciptakan, walaupun hampir tak sejalan dengan apa yang saya percayai. Namun itulah salah satu anugerah besar Tuhan. Dari budaya dan adat tersebutlah, saya bisa lebih memahami makna hidup dan mati di dunia.
 Kehidupan memang adalah sebuah awal, namun budaya toraja sekali lagi mempunyai pengaruh dalam setiap pola pikir saya bahwa tidak ada sebuah akhir, tak jarang orang menyebut kematian adalah sebuah akhir, namun leluhur kami bahkan sangat yakin bahwa akan ada sebuah kehidupan baru dan sebuah perjalanan panjang setelah kematian. Yang akan berarti kematian bukanlah akhir namun sebuah babak baru dari kehidupan. Jika mencari sebuah akhir di dunia, maka kematian bagi kami masyarakat toraja bukan pula akhir, karena cerita dan ingatan akan leluhur kami semasa hidupnya akan terus diceritakan secara turun temurun kepada generasi selanjutnya.
            Jika ritus rambu solo’ adalah sebuah acara kedukaan, maka sebagian besar masyarakat toraja tidak sependapat dengan saya, liat saja acaranya, memotong bahkan ada yang ratusan kerbau, bukankah itu pesta pemotongan hewan secara massal. Kematian  dirayakan, namun itu kebali kepada pribadi masing-masing orang. Namun jika saya memaknainya, seharusnya memang seperti itu, dimana kematian dirayakan, karena menurut keimanan saya, kematian akan membawa kita semua untuk bertemu dengan Sang Pencipta. Kenapa kita harus berduka jika bertemu dengan pencipta. Rayakanlah itu. Namun memang sepertinya lidah memang tak bertulang, dan dengan mudahnya berkata seperti itu, akan ada kesedihan yang melingkupi, namun jika hal tersebut kita maknai dengan tepat, mungkin malah akan ada sukacita besar bagi kita, melihat orang yang kita kasihi akan segera bertemu dengan Sang Khalik.
Bahkan tak pernah terlintas dalam benak saya untuk mencoba menghindar dari apa yang telah saya lihat semenjak bertumbuh di dunia, tak ada niat untuk membiarkan adat budaya yang begitu unik dan penuh makna berhenti diantara kami generasi muda. Jika ada besi berukuran 1 kg, maka anggaplah itu hanya kapas berukuran 1 kg. menyembeli hewan dalam acara rambu solo’ tidak akan pernah saya maknai sebagai sebuah penyembahan berhala, namun terlebih kepada kasih terhadap sanak keluarga yang akan segera bertemu dengan Sang khalik. Kasian juga jika begitu banyak orang yang datang melayat dan hanya diberi sesuap nasi, bukankah bagi saya itu adalah sebuah perayaan, maka dari itu, makanan pun harus banyak dan jika perlu kerbau bukan masalah itupun jika mampu. dan mulai lagi hal baru muncul dari sini. budaya semakin mengokohkan hubungan kekeluargaan tapi bagi yang bodoh dan buta budaya akan membuat mereka terpisah dan bahkan merusak nilai-nilai keindahan dalam budaya.
Namun tak jarang pemaknaan akan sesuatu bisa saja melenceng. Mungkin ada yang yang memaknai adat budaya sebagai sebuah symbol untuk prestise dari masyarakat akan keampuannya di bidang materi. Ataupun untuk memperkokoh statusnya sebagai darah biru, yang cukup konyol karena merasa lebih dari orang lain hanya gara-gara leluhurnya dahulu. Anak-Bapak tak selalu berwarna sama. Darah kita semua sama. Jika matipun nanti semua manusia hanya akan jadi seonggok tengkorak yang jadi pajangan di tempat wisata Toraja. Miris bukan, namun bgt kenyataanya, jika hidup tidak dimaknai, maka kematian tidak ada artinya, kedua hal ini sangat berkaitan erat. Jangan biarkan kematian kita dilupakan oleh dunia, jika dalam kurun 5 tahun setelah kita mati msh ada yang sempat ingat hal baik akan kita, maka bukannya itu adalah sebuah keberhasilan kita di masa kita hidup dan keberhasilan kita di kematian walaupun hanya sebuah kebaikan kecil kita semasa hidup di dunia. Mungkin beginilah cara saya memaknai kehidupan dan kematian, jika hanya menjadi pemburu harta toh tidak akan saya bawa sampai mati, namun jika saya mati dan masih ada yang menceritakan kisah hidup saya diakhir nanti, hal itu akan membuat saya senang. Dan sekali lagi saya bangga dapat pelajaran seperti ini dari adat dan budaya toraja, yang bahkan teman saya yang dari suku lain katakan, orang toraja hidup untuk mati, bagi saya itulah kebenarannya. Bahkan kematian akan menjadi sebuah hal yang lebih berharga dari pada kelahiran.

Selasa, 13 Januari 2015

Apa kata Pencicip Kopi Bersertifikat Internasional Pertama tentang Kopi Toraja?



Dilihat dari banyaknya kenikmatan kopi yang tersebar di beberapa kafe, ternyata ada seorang ahli pencicip kopi yang menjadi penentu dari cita rasa kopi. Salah satu nya adalah Yusianto, beliau adalah satu dari beberapa orang pencicip kopi bersertifikat Internasional pertama di Indonesia. Senjata pamungkas nya adalah lidahnya, untuk mendapatkan kopi yang berkualitas.
 
Pria kelahiran Nganjuk, 12 Mei 1961 ini dikenal sebagai 'Dokter Kopi' Indonesia. Beliau terpilih menjadi salah satu dari 24 orang pencicip kopi pertama di Indonesia yang mendapatkan sertifikasi Internasional dari Coffee Quality Institute, yakni penguji kopi di Amerika yang terkenal dengan Specialty Coffee Association of America (SCAA). "Saya ada sertifikat dari Coffee Quality Institute tahun 2009. Saya yang pertama di Indonesia, yang pertama ada 24 orang," ujar Yusianto.
 
Setelah lulus dari Institut Pertanian Bandung (IPB), jurusan Teknologi Industri Pertanian di tahun 1988.Pria berjenggot ini langsung menjadi seorang peneliti dan penguji cita rasa (Sensory Analyst) di Pusat Penelitian Kopi dan Kakao (Puslit Koka), Jember, Jawa Timur. 
 
Tugas utamanya adalah meneliti dan menemukan teknologi baru untuk menghasilkan kopi yang berkualitas. Dan sebagai peneliti di bidang pasca panen, ia kini lebih banyak berperan di bagian sensory analysis (uji cita rasa) sebagai seorang pencicip kopi.
 
Sebagai pencicip kopi, aktifitas beliau adalah mencium dan mencicipi berbagai jenis kopi. Dalam sehari, ia bisa mencicip hingga 60 cangkir kopi! Tergantung dari banyaknya kopi yang datang. Kopi yang beliau cicip ternyata bukan hanya kopi yang berasal dari Puslit Koka, tetapi juga kopi yang berasal dari seluruh Indonesia.
 
Menurut beliau, tugas utama dari seorang pencicip kopi adalah melihat, mencium dan mencicipi kopi, agar dapat mengetahui cacat cita rasa nya. Selain itu juga, pencicip kopi harus punya kemampuan untuk membedakan dan mengetahui tiap jenis kopi. Oleh karena itu, profesi ini sangat membutuhkan kepekaan indera.
 
"Kopi di seluruh Indonesia pernah saya cicipi, kemudian ditambah kopi-kopi dari luar negeri.Secara pribadi, saya paling suka kopi Toraja, kopi Arabica terbaik di Indonesia, karena aroma dan cita rasanya kuat. Cita rasanya sulit digambarkan, seperti cita rasa madu," tutur ayah 7 anak ini.
 
Menjadi profesi ini, beliau juga harus siap dengan setiap cita rasa kopi yang diujinya. Tidak semua kopi yang ia coba selalu enak, lidahnya sering kali bertemu kopi berkualitas buruk dengan rasa yang tidak enak. Tapi baginya itulah resiko menjadi seorang pencicip kopi, yang harus siap dengan kopi yang tidak enak.
 
"Sebagai pencicip yang diperlukan harus sehat, baik fisik maupun rohaninya. Nggak boleh pas marah nyicipin kopi karena nanti kopinya jadi jelek semua, musti harus sehat," ucapnya.

torajakoffie.com

Jumat, 09 Januari 2015

Rama Widi Putra Toraja Yang Mendunia Dengan Musik Harpa

Rama Widi Putra Toraja Yang Mendunia Dengan Musik Harpa 17:38  INFO  No comments Rama Andika Widi atau Rama Widi adalah seorang pemain harpa pria pertama di Indonesia. Rama Widi adalah putera Toraja dari mantan Wakabareskrim Polri Bpk. Mathius Salempang dan Ibu Fifi.

Tahun 2004 Rama mulai belajar harpa dan serius mendalaminya di Vienna Konservatorium, Austria dibawah bimbingan Julia Reth salah seorang maestro harpa dunia. Denting dawai harpa yang lembut dan tegas telah menyentuh hati Rama yang mulai belajar musik harpa sejak usia 6 tahun.  

Harpa memang alat musik yang belum terlalu dikenal masyarakat indonesia pada umumnya. Pada tahun 2007, ia menjadi orang Indonesia pertama yang bermain di gedung opera Vienna, Austria dan Budapest, Hongaria. Juli 2007, ia menjadi salah satu artis di Vienna Jazz Festival yang salah satunya mendapat sambutan paling meriah dari para penonton  Musisi musik klasik Indonesia ini telah belajar selama 10 tahun di Austria. 

Prestasinya di negara tetangga pun ternyata mengagumkan, mengingat terpilihnya ia sebagai dosen Mahidol University, Thailand. Pria kelahiran Jakarta, 31 Agustus1985 ini pun diklaim sebagai pemain harpa pria pertama di Indonesia. ”Sejak 2005 saya selalu mengadakan konser di Indonesia setiap tahun dan mengunjungi beberapa SMP dan SMU untuk mengenalkan harpa. 

Alat ini bisa main genre musik apa saja, baik jazz, pop, bahkan dangdut," kata Rama. Diakui Rama, harpa memang identik dengan kaum perempuan karena yang memperkenalkan alat musik tersebut ke Indonesia adalah perempuan. Namun, bila dilihat dari sejarah, kebanyakan pemain harpa adalah lelaki. Sejak kecil, Rama dikenalkan berbagai alat musik oleh orangtuanya, seperti organ, biola, dan harpa. Hal itu membuatnya serius belajar memainkan alat musik sehingga memutuskan untuk berkuliah di Austria, negara yang banyak mencetak musisi-musisi kenamaan, selama 10 tahun. Rama akhirnya memilih mendalami harpa karena masih sedikit pemain harpa yang sukses di Indonesia. ”Dari awal saya suka musik karena hobi dan bunyinya yang indah. 

Awalnya belum memutuskan untuk mendalami harpa. Awalnya mau mendalami conducting, tapi enggak diterima. Akhirnya saya mencari instrumen yang belajarnya cepat dan perkembangannya juga cepat. Tadinya bingung, antara harpa dan kobo. Pemain kobo sudah banyak, pemain harpa masih sedikit. Di Indonesia cuma tiga waktu itu, jadi aku berpikir mau jadi orang keempat," ungkapnya. Menurutnya, tingkat kerumitan dalam memainkan harpa adalah pada bagian pedalnya. Butuh pendalaman yang lebih guna menghayati dan mendapatkan irama yang indah. Kini, mimpi Rama adalah menjadi solois harpa profesional. 

Rama mulai belajar harpa dan serius mendalaminya di Vienna Konservatorium, Austria sejak 2004, di bawah bimbingan Julia Reth --salah seorang maestro harpa dunia. Ia menjadi orang Indonesia pertama yang memainkan alat musik di Vienna Jazz Festival pada tahun 2007. "Impian terbesar mau jadi solois pemain harpa. Karena, saat ini yang jadi solois itu penyanyi, pemain biola, atau piano. Sementara harpa masih jarang. Maka usai selesaikan pendidikan di Austria, saya kembali ke Indonesia. Namun tak lama kemudian harus pergi lagi ke Thailand untuk mengajar harpa di Mahidol University," ungkap Rama. 

Berkat bakatnya memainkan harpa, Rama sudah berkeliling dunia, mulai dari Eropa hingga Tiongkok dengan Symphonia Vienna Orchestra. Tahun 2007. Ia bahkan sempat menggelar konser solo di Arkadenhof Rathaus, Wina. Tahun 2012 lalu, Rama terpilih sebagai kontestan di ajang kompetisi harpa paling bergengsi di dunia yakni Opera Vienna Orchestra di Baden, Jerman. Selain sibuk dalam dunia musik khususnya musik harpa, putra kelahiran 29 tahun yang lalu ini juga ikut berperan dalam mengelola  PO Bus Manggala Trans milik Bpk Matius Salempang. 

Sumber: https://www.facebook.com/ramawidi 
                 http://www.ramawidi.com/
                 portalsolata.blogspot.com